Di daratan China diyakini bahwa jenderal Han Sin lah yang menciptakan layangan pada tahun 206 sebelum Masehi untuk kebutuhan perang. Kemudian tahun 196 Masehi tercatat bahwa layangan digunakan pula untuk mengukur jarak antara pasukan penyerang dan tembok pertahanan musuh. Sebagai peralatan perang, malah ada kisah yang menyebutkan ada seorang jenderal bernama Mah Hwan Teng mengunakan layang-layang besar menyeramkan untuk menakuti pasukan Liu Fang musuhnya.
Dalam kebudayaan China, layangan memang punya banyak peran. Begitu pentingnya benda ini sampai dibuat hari layangan. Perayaan yang dilaksanakan setiap hari kesembilan di bulan kesembilan ini bertujuan untuk menghalau bala. Orang China percaya bahwa warna-warni layangan dapat mengusir setan yang selalu mengganggu.
Dari daratan China, layangan melayang sampai ke Jepang bersamaaan dengan penyebaran agama Buddha pada masa pemerintahan Kaisar Henan. Layangan mulai menghiasi langit negeri Sakura. Kemudian layangan pun terbang sampai benua Amerika. Disini layangan tidak hanya untuk bermain, tapi turut ambil bagian dalam ilmu teknologi. Dengan layangan, Ilmuwan Benyamin Franklin membuktikan bahwa petir memiliki muatan listrik. Diperkirakan sejak itulah layangan segi empat mulai populer.
Di indonesia sendiri, tidak ada catatan pasti kapan layangan mulai dikenal. Yang jelas, layangan sangat akrab sebagai permainan di berbagai daerah. Bahkan di Bali, layangan yang disebut ‘janggan’ begitu dikenal sampai ke pelosok desa. Ada lagi layangan ‘goang’ dari Nusa Tenggara Barat, layangan ‘geulayang’ dari Aceh, serta layangan aduan yang sangat sering dimainkan saat musim angin besar.
Awalnya layangan memang terbuat dari kertas. Namun seiring perkembangan teknologi, bahan sejenis parasut yang disebut ‘ripstock’ semakin banyak digunakan. Dengan bahan-bahan ini muncullah layang-layang jenis baru, seperti ‘sunkite’ dan ‘tribike’ yang mampu melakukan beragam manuver di udara. Layangan jenis ‘revolution’, bahkan mampu diterbangkan di ruangan tertutup. Sejarah layangan memang sepanjang benang diulur ke angkasa, melayang mengarungi rentang waktu ratusan tahun.
Sumber: AikonTV, eps. Layangan.
