Jumat, 05 Januari 2018
‘Geoheritage Trail’, Jelajah Fenomena Jawa Purba
'Geoheritage Trail’, Jelajah Fenomena Jawa Purba: Kisah-kisah kebumian selalu menarik untuk dinikmati, terlebih jika menyangkut tempat-tempat dimana kita hidup dan berpijak. Awal Juni 2013 l...
Kamis, 04 Januari 2018
Tentang 'Lukisan Kaca'
Pernahkan anda mencermati keindahan lukisan kaca yang terdapat di kastil atau gereja abad pertengahan di Eropa? Lukisan kaca atau reserve glass painting adalah salah satu jenis seni lukis yang menggunakan media kaca, untuk menciptakan gambar yang terlihat dari arah kaca yang tidak dilukis.
Dalam bahasa Perancis, lukisan kaca dikenal dengan nama verre egliomise, yang berasal dari nama seorang dekorator asal Prancis, Jean-Baptiste Glomy yang hidup tahun 1711-1786. Sedangkan di Jerman, seni melukis kaca dikenal dengan istilah hinterglasmalerei.
Dalam proses pembuatannya, mulanya dibuat desain gambar di media kertas. Kemudian, membuat kontiur atau garis gambar yang akan berfungsi sebagai penahan cat basah agar tetap berada di dalam bagiannya.
Lukisan kaca masuk ke indonesia pada abad ke 19. Lukisan kaca kerap digunakan sebagai oleh VOC, sebagai hadiah kepada raja-raja atau sultan di Indonesia.
Pada tahun 1908, untuk petama kalinya muncul seniman lukisan kaca asal indonesia, yaitu Jat, seorang pelukis dari Kupang Praupan, Surabaya, yang ikut serta dalam Pasar Malam tahunan di Surabaya.
Pada tahun 1930an hingga 1950an, lukisan kaca menjadi simbol status sosial bagi pemiliknya. Lukisan kaca di Indonesia umumnya dimiliki oleh saudagar kaya atau orang yang telah berhaji. Pada era itu lukisan kaca yang populer di kalangan masyarakat indonesia adalah lukisan kaca dengan motif wayang, atau kaligrafi arab.
Saat ini, seniman lukisan kaca di wilayah Indonesia tersebar di wilayah Jawa, Bali, dan Sumatera seperti Cirebon, Buleleng (Nagasepaha), Semarang, Yogyakarta, Magelang, Muntilan, Bantul, Surakarta, Kudus, Tuban, Madura, Pasuruan, dan Surabaya, Bengkulu (Tebat Monok, Keban Agung, dan Batu Bandung), Medan, dan Banda Aceh.
Lukisan kaca yang merupakan seni khas eropa, kini telah menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia, suatu keharusan bagi generasi muda untuk ikut melestarikannya.
Dalam bahasa Perancis, lukisan kaca dikenal dengan nama verre egliomise, yang berasal dari nama seorang dekorator asal Prancis, Jean-Baptiste Glomy yang hidup tahun 1711-1786. Sedangkan di Jerman, seni melukis kaca dikenal dengan istilah hinterglasmalerei.
Dalam proses pembuatannya, mulanya dibuat desain gambar di media kertas. Kemudian, membuat kontiur atau garis gambar yang akan berfungsi sebagai penahan cat basah agar tetap berada di dalam bagiannya.
Lukisan kaca masuk ke indonesia pada abad ke 19. Lukisan kaca kerap digunakan sebagai oleh VOC, sebagai hadiah kepada raja-raja atau sultan di Indonesia.
Pada tahun 1908, untuk petama kalinya muncul seniman lukisan kaca asal indonesia, yaitu Jat, seorang pelukis dari Kupang Praupan, Surabaya, yang ikut serta dalam Pasar Malam tahunan di Surabaya.
Pada tahun 1930an hingga 1950an, lukisan kaca menjadi simbol status sosial bagi pemiliknya. Lukisan kaca di Indonesia umumnya dimiliki oleh saudagar kaya atau orang yang telah berhaji. Pada era itu lukisan kaca yang populer di kalangan masyarakat indonesia adalah lukisan kaca dengan motif wayang, atau kaligrafi arab.
Saat ini, seniman lukisan kaca di wilayah Indonesia tersebar di wilayah Jawa, Bali, dan Sumatera seperti Cirebon, Buleleng (Nagasepaha), Semarang, Yogyakarta, Magelang, Muntilan, Bantul, Surakarta, Kudus, Tuban, Madura, Pasuruan, dan Surabaya, Bengkulu (Tebat Monok, Keban Agung, dan Batu Bandung), Medan, dan Banda Aceh.
Lukisan kaca yang merupakan seni khas eropa, kini telah menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia, suatu keharusan bagi generasi muda untuk ikut melestarikannya.
Teks: Michael Yuli Aryanto
Tentang ' Gitar'
Gitar merupakan salah satu alat music paling populer di dunia. Gitar mulai populer di Spanyol pada abad ke 17. Abad ke 18 menjadi zaman keemasan bagi gitar akustik. pada era 1750-1775 bermunculan komposer-komposer gitar terkenal seperti Fernado Sor, Mauro Giuliani, Matteo Carcassi, D.Aguado, Nicolo Paganini, dan Fernando Carulli, beberapa diantaranya karya-karyanya masih dapat didengar hingga saat ini.
Gitar listrik ditemukan pada tahun 1930 oleh George Beauchamp dengan meniru konsep jarum gramaphon yaitu dengan memberi gaya medan magenet untuk menciptakan arus listrik kepada bentangan kawat, sehingga saat dawai gitar digetarkan di dekat medan magnet, getaran tersebut akan mengubah arus listrik menjadi gelombang suara yang dikonversikan melalui speaker. Gitar listrik mulai populer di kalangan musisi pada tahun 1940an, setelah Les Paul berhasil menciptakan gitar listrik dengan badan padat yang mamampu meminimalisir feedback atau suara-suara yang tidak dikehendaki.
Gitar masuk ke ke Indonesia bersamaan dengan masuknya orang-orang Portugis ke Indonesia pada abad ke-17. Pada waktu itu tawanan Portugis asal Malaka yang bermukin di belkamu, kawasan rawa-rawa di Jakarta Utara, mereka menghibur diri dengan bermain musik menggunakan alat musik yang menyerupai gitar yang dikenal saat ini, yaitu monica, yang terdiri dari tiga dawai, rorenga yang terdiri dari empat dawai, dan jitera yang terdiri dari lima dawai.
Saat ini gitar menjadi salah satu alat music paling populer di Indonesia, beberapa gitaris Indonesia pun telah mendapatkan pengakuan dunia atas kemampuannya dalam memainkan dawai-dawai gitar untuk menghasilkan melodi-melodi yang merdu. Beberapa gitaris Indonesia yang mendapatkan pengakuan internasional antara lain seperti Dewa Budjana, Tohpati, dan I Wayan Balawan.
Gitar listrik ditemukan pada tahun 1930 oleh George Beauchamp dengan meniru konsep jarum gramaphon yaitu dengan memberi gaya medan magenet untuk menciptakan arus listrik kepada bentangan kawat, sehingga saat dawai gitar digetarkan di dekat medan magnet, getaran tersebut akan mengubah arus listrik menjadi gelombang suara yang dikonversikan melalui speaker. Gitar listrik mulai populer di kalangan musisi pada tahun 1940an, setelah Les Paul berhasil menciptakan gitar listrik dengan badan padat yang mamampu meminimalisir feedback atau suara-suara yang tidak dikehendaki.
Gitar masuk ke ke Indonesia bersamaan dengan masuknya orang-orang Portugis ke Indonesia pada abad ke-17. Pada waktu itu tawanan Portugis asal Malaka yang bermukin di belkamu, kawasan rawa-rawa di Jakarta Utara, mereka menghibur diri dengan bermain musik menggunakan alat musik yang menyerupai gitar yang dikenal saat ini, yaitu monica, yang terdiri dari tiga dawai, rorenga yang terdiri dari empat dawai, dan jitera yang terdiri dari lima dawai.
Saat ini gitar menjadi salah satu alat music paling populer di Indonesia, beberapa gitaris Indonesia pun telah mendapatkan pengakuan dunia atas kemampuannya dalam memainkan dawai-dawai gitar untuk menghasilkan melodi-melodi yang merdu. Beberapa gitaris Indonesia yang mendapatkan pengakuan internasional antara lain seperti Dewa Budjana, Tohpati, dan I Wayan Balawan.
Teks: Michael Yuli Aryanto
Langganan:
Postingan (Atom)
